Politisi Rieke: Data Desa Presisi Membuat Perencanaan Pembangunan Lebih Matang

Jakarta – Politisi Rieke Diah Pitaloka mengatakan pentingnya memanfaatkan data desa presisi (DDP) agar membuat perencanaan pembangunan desa lebih matang dan tepat sasaran.

“Saya menyampaikan apresiasi pemerintah daerah yang telah memanfaatkan data desa presisi,” kata Rieke yang juga kandidat Doktor Universitas Indonesia dalam keterangan tertulis, Selasa.

Manfaat DDP juga disampaikan Bupati Gianyar Bali, I Made Agus Mahayasastra yang mengatakan data yang tersaji sangat komplit bahkan kalau data itu dipakai di desa-desa wilayahnya bisa menempati posisi teratas di Indonesia.

Kabupaten dengan luas wiayah 368 kilometer persegi, tapi jumlah penduduk nomor tiga di Bali tersebut berhasil membangun pasar terbesar di Bali yang kini mencapai penyelesaian 65 persen.

Mahayasastra juga berhasil membangun dua rumah sakit. Keunggulan dari salah satu rumah sakit tersebut yakni, bangunannya cuma satu, sedangkan area lainnya dibiarkan menghijau.

Rieke sebelumnya juga menginspirasi dua desa lainnya yakni Pantai Bakti Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi dan Desa Sibandang Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara untuk mengimplementasikan DDP dalam perencanaan pembangunan pedesaan.

“Saya ingin sampaikan 2022 semua desa harus sudah seperti Desa Tegallang,” kata Bupati Gianyar tersebut.

“Tanpa data yang akurat, valid, dan benar, tentu tak bisa menuntun membuat keputusan,” kata Mahayasastra.

Menurut dia, bila salah dalam pengambilan keputusan, maka akan bermasalah dalam pembiayaan dan menimbulkan kerugian, jauh melebihi daripada yang diperkirakan.

Ia yakin DDP menjadi perwujudan cita-cita Bung Karno yang sudah memikirkan pembangunan berbasis data sejak 1959 atau 60-an tahun yang lalu.

Ia mengaku terpesona pada aplikasi DDP yang hasil output-nya bisa lihat dalam hitungan detik.

Seperti halnya Bupati Gianyar, Kepala LPPM IPB University Dr. Sofyan Sjaf mengatakan keberadaan Dewan Perancang Pembanguan Nasional (Depernas) yang beranggotakan 513 pemikir-pemikir bangsa ini yang sudah mendahulukan pentingnya riset dalam mencapai kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hasil kajian Bapernas memastikan, dua hal itu hanya bisa dicapai dengan dua hal pula yakni adanya pembangunan pedesaan yang demokratik serta proses data yang akurat.

Ia juga menegaskan ulang pernyataan Presiden Jokowi, masalah akurasi data masih menjadi persoalan hari ini.

Wakil Kepala LPPM IPB University Dr. Ernan Rustiadi memastikan masalah akurasi data yang dipersoalkan Presiden bisa diselesaikan dengan mereplikasi DDP di seluruh Indonesia.

Dr. Ernan Rustiadi menegaskan salah satu kontribusi yang menjadikan IPB University sebagai kampus terbaik karena adanya penelitian-penelitian yang terbaik.

“Setiap tahun kira-kira sebesar seribu tujuh ratus penelitian dan tahun lalu, Alhamdulillah dalam peringkat, IPB dinyatakan sebagai perguruan tinggi terbaik. Salah satu kontribusinya, karena penelitiannya,” kata Ernan.

Sedangkan Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria mengatakan sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), DDP akan didiseminasi lebih luas ke perguruan tinggi di Indonesia.

Rektor IPB tersebut mencontohkan kemajuan Korea Selatan yang dimulai dari desa, dengan cara meningkatkan kepercayaan diri.

Park Chung Hee, Presiden Korea Selatan (Korsel) 1963-1979, berhasil membangun fondasi kemajuan negara dengan cara memplester rumah-rumah di desa.

Presiden yang berhasil memodernisasi Korsel dengan membangun desa dengan program plester. Rumah yang beralas tanah diplester, sehingga meningkatkan rasa percaya diri masyarakatnya.

Ia berharap DPP juga bisa membangun fondasi desa yang kuat. Harapan yang tentu jauh lebih baik daripada program plester perumahan di desa. (Ant)