Paslon DEMA FST UIN Jakarta Memalsukan Berkas Demi Nafsu Jabatan

Foto : Ilustrasi Calon wakil DEMA FTS UIN JKT

Sahabat Rakyat Banten – Pemilu Mahasiswa (Pemilwa) UIN jakarta telah usai pada tanggal 4 desember 2020 bertepatan dengan hasil penepatan calon terpilih yang di upload di akun instagram @official.kpm.

Meski telah usai pemilwa UIN jakarta masih meninggal banyak polemik yang tak kunjung selesai. Mulai dari awal pembentukan komisi pemilu mahasiswa (kpm) dan badan pengawas pemilu mahasiswa (bppm), pemberkasan calon peserta pemilwa, sengketa hasil verifikasi berkas, hasil sengketa, hingga pada saat hari pemilihan pun juga terdapat permasalahan. Semua permasalahan beruntut dan membuat pemilwa UIN jakarta tahun 2020 ini berantakan.

Semua berawal dari tidak adanya keterbukaan antara bph dari kpm sebagai penyelenggara terhadap peserta pemilwa. Hal tersebut berdampak sangat fatal, dimana banyak miss informasi dan tidak adanya komunikasi yang baik antara pihak penyelenggara yaitu kpm dengan peserta pemilwa.

Jadwal pemilwa pun menjadi mundur jauh dari jadwal yang ditetapkan, timeline yang dibuat seakan tidak berlaku dan kpm bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh kpm sendiri tanpa keterbukaan kepada peserta pemilwa.

Permasalahan pertama yang dirasakan adalah banyaknya calon peserta yang tidak lolos verifikasi berkas tanpa diberitahukan tentang apa yang menjadi permasalahan peserta sehingga tidak lolos berkas.

Ketika dilakukan sengketa pun pihak kpm yang menyelenggarakan kembali tidak komunikatif dan responsif, semua berjalan tanpa komunikasi dan sosialisasi yang jelas sehingga sengketa berlangsung cukup lama yaitu memakan waktu lebih dari 12 jam.

Sungguh sangat mengganggu dimana seluruh peserta yang notaben nya adalah mahasiswa aktif sangat terganggu kuliahnya dan mengganggu jadwal kuliahnya karena sidang sengketanya pun dilakukan sampai dini hari.

Berlanjut pada pengumuman hasil sengketa yang diumuman kpm pun tak luput dari masalah, dimana ada beberapa peserta yang lolos ada yang tidak lolos padahal kpm tidak menyebut dasar pertimbangan apa dan alasan keputusan nya apa.

Karena polemik yang panjang tersebut mahkama pemilu mahasiswa (mpm) sebagai tim independen memfasilitasi sidang banding sengketa yang sebelumnya diselenggarakan oleh kpm. Sidangpun menampung segala permasalahan yang masih belum selesai pada sengketa sebelumnya, sidang banding tersebut dipimpin oleh 9 anggota mpm yang telah ditetapkan oleh rektor.

Sidang banding yang diselenggarakan mpm berjalan cukup lama dan langsung memutuskan hasil yang di post di akun instagram official kpm, dari sidang banding tersebut sebagian peserta dinyatakan lolos dan sebagian lagi dinyatakan tidak lolos, keputusan mpm tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pada keputusan hasil sidang banding sengketa mpm tersebut ada yang menjadi sorotan yang itu tentang ketidaklolosan paslon no. 1 dema fakultas sains dan teknologi karena telah melakukan pelanggaran kode etik (menghapus nilai/memalsukan dokumen akademik), yang mana mendekati hari pemilihan secara tiba-tiba terbit surat notulensi rapat koordinasi warek 3 dengan pustipanda yang menyatakan paslon no. 1 dema fakultas sains dan teknologi tetap lolos dan berhak melanjutkan ke pemilihan.

Hal tersebut sangat bersebrangan dengan hasil sidang banding mpm, yang mana keputusan mpm itu bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Setelah ditelusuri, didalam surat notulensi rapat koordinasi warek 3 dengan pustipanda terdapat laporan dari dekan fakultas sains dan teknologi kepada warek 3 untuk meninjau kembali atas ketidaklolosan paslon no. 1 dema fakultas sains dan teknologi.

Hal ini sangat disayangkan, karena dekan fakultas sains dan teknologi terkesan tidak menghormati mekanisme hukum yang ada dan tidak bersifat netral. Tindakan seperti ini terlebih lagi yang dilakukan oleh petinggi tingkat fakultas sangat menodai pesta demokrasi tahunan ini.