Calon ketua DEMA U Palsukan IPK, Mahasiswa UIN Jakarta Suarakan Diskualifikasi Paslon Terpilih

Foto : Doc AMPERA

Helatan Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) UIN Jakarta tahun 2020 sudah ditahapan penyelesaian. Seluruh calon yang memenangkan ditingkat Universitas, Fakultas dan HMPS sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Mahasiswa (KPM).

Namun, ditingkat Dema Universitas paslon nomor urut satu atas nama Inisial (TB) dan (PN) yang terpilih sebagai ketua dan Wakil Ketua DEMA-U UIN Jakarta priode 2020-2021 terganjal kasus berat yang dilakukan oleh salah satu Paslon terpilih.

Pada saat bersamaan, salah satu Mahasiswa UIN Jakarta melaporkan kepada pimpinan tertinggi Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis Lc., M.A akan tetapi Rektor menyatakan

“Permasalahan seperti ini yang menyelesaikan di tingkat Fakultas bukan Universitas”.

Kemudian proses dilanjutkan di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) terkait kasus pemalsuan dan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh salah satu paslon DEMA-U terpilih. Karena mahasiswa yang bersangkutan yakni inisial TB adalah mahasiswa aktif dari Fakultas Adab, maka hal tersebut langsung dikonfirmasi dan ditindaklanjuti oleh pimpinan FAH, sehingga dibentuk Mahkamah Etik di Fakultas Adab dan Humaniora untuk menangani kasus tersebut.

Pada Jumat 11/12/2020 dilaksanakan sidang Mahkamah Etik yang dihadiri oleh pelapor, terdakwa, saksi dan pihak dekanat Fakultas Adab dan Humaniora. Dalam Mahkamah Etik yang diselenggarakan di FAH menyatakan bahwa terdakwa bersalah.

Keputusan pimpinan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 18/12/20 atas terdakwa tentang penetapan sanksi pelanggaran kode etik mahasiswa atas dasar hasil sidang Mahkamah Etik menyatakan;

Pertama, terdakwa dinyatakan bersalah karena melanggar Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 469 Tahun 2016 tentang Kode Etik Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan melanggar Kode Etik mahasiswa Bab IV Pasal 5 Ayat 15 (melakukan penipuan) dan Ayat 16 (memalsukan nilai atau dokumen akademik lainnya).

Kedua, terdakwa dijatuhkan hukuman dengan sanksi sedang dengan pelarangan terlibat dalam kegiatan intra kampus selama 2 (dua) semester. Dan terakhir, keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan diubah apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan dalam surat keputusan ini.

“Melihat sanksi yang diberikan atas nama inisial TB yaitu dilarang terlibat dalam kegiatan intra kampus selama dua (2) semester, maka TB yang terpilih sebagai Ketua DEMA U dan berpasangan dengan PN sebagaimana tertuang dalam Bab VIII Pasal 34 UU Mahasiswa Nomor 1 Tahun 2020 Tentang Pemilihan Mahasiswa harus dianulir pasangan tersebut, dikarenakan adanya pelanggaran kode etika dan pemalsuan dokumen yang digunakan untuk memenuhi salah satu persyaratan menjadi calon Ketua Dema U. Jadi, harus diskualifikasi 1 pasang DEMA U terpilih.” Tegas perwakilan Aliansi mahasiswa Sadar Demokrasi.