Lebak – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Provinsi Banten, mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM) menggunakan aplikasi digital untuk memasarkan produk sehingga dapat mendongkrak omzet.
“Kita menerima laporan dari pelaku usaha yang memasarkan produknya melalui digitalisasi meraup keuntungan ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan,” kata Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Abdul Waseh di Lebak, Minggu.
Saat ini, lanjutnya, pelaku UMKM bisa mudah memasarkan produk mereka secara daring melalui media sosial itu. Pihaknya mengapresiasi pelaku UMKM Badui yang sudah menggunakan aplikasi digitalisasi dan mendapat banyak pesanan dari luar daerah. Mereka menjual produk seperti kain tenun, baju kampret yang dulu dipakai Presiden Joko Widodo, dan tas koja,
Karena itu pihaknya terus melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelaku UMKM agar bisa memasarkan produk menggunakan aplikasi digitalisasi media sosial, memahami broadcasting, bisnis e-commerce, konten digital, e-learning, dan bisnis afiliasi.
Selain itu juga bagaimana cara memposting produk UMKM hingga ke lokapasar seperti Shopee, Lazada, Akulaku, Tokopedia, Bukalapak, serta media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube.
Berdasarkan jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Lebak yang menerima bantuan dari pemerintah tahun 2021, tercatat ada 117.269 unit usaha dan sebagian besar bergerak di bidang perdagangan dan kerajinan bambu, kain batik, serta aneka makanan kuliner.
Selama ini, kata dia, pelaku UMKM yang sudah memasarkan produknya melalui digitalisasi masih di bawah 20 persen.
“Kami mendorong ke depan semua pelaku UMKM dapat memanfaatkan platform daring dan tidak lagi memasarkan secara konvensional,” kata Waseh.
Menurut dia, di era serba informasi dan teknologi tentu pelaku UMKM harus adaptif, kreatif, dan inovatif, untuk mengembangkan usaha mereka. Pelaku UMKM, lanjutnya, harus “melek” digital sehingga dapat memperluas pemasaran dan tidak lagi mengandalkan pasar konvensional.
“Kita berharap pelaku UMKM dapat memahami penggunaan teknologi digitalisasi itu,” ujarnya.
Sementara itu Kubil (45) pelaku UMKM masyarakat Badui mengatakan sejak dua tahun terakhir ini omzet pendapatan relatif lumayan dengan memanfaatkan digitalisasi secara daring.
Bahkan ketika Presiden Jokowi menggunakan pakaian adat Badui banyak pesanan dari Bali, Sumatra, Kalimantan, Jakarta dan Jawa Barat.
“Kami merasa terbantu memasarkan produk kerajinan secara online dan setiap hari mendapatkan pesanan dari luar daerah. Dulu, omzet pendapatan hanya mengandalkan wisatawan, namun kini secara online,” kata Kubil. (Ant)





